Pahlawan Nasional Berafiliasi Muhammadiyah
Terlahir dari Rahim Muhammadiyah Pahlawan Nasional. Muhammadiyah telah menjelma dalam Rumah Sakit, Sekolah, Balai Pengajian, sampai Perguruan Tinggi. Semua itu tersebebar dari pelosok Aceh sampai Papua, bahkan di Mancanegara. Dalam perjalannya, banyak tokoh muhammadiyah yang mengabdi untuk bangsa dan negara. Pemerintah menganugrahi merekam dengan Gelar Pahlawan Nasional.
Menjelang usia ke-1010 tahun, Muhammadiyah mengantarkan sumbangsih penting bagi perjalan bangsa. Bukan hanya pada bidang Amal Usah, melainkan juga pada pemikiranya. Demikian pentingnya peran Muhammadiyah sehingga orgaisasi yang hadir pada 18 November 1912 ini menjadi faktor penting lahir dan berkembangnya bangsa ini.
Dalam perjalanannya, banyak tokoh muhammadiyah yang mengabdi untuk bangsa dan negara. Pemerintah lalu menganugerahi mereka dengan Gelar Pahlawan Nasional. Berikut adalah pahlawan Nasional berafiliasi dengan Muhammadiyah;
Ahmad Dahlan (Sang Pembaharu)
Terlahir di Yogyakarta, 01 Agustus 1868, dan wafat pada 23 Februari 1923. Kiai Dahlan muncul sebagai pembaharu. Pada 18 November 1912, dia mendirikan Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta. Pemerintah mengangkat Kiai Dahlan sebagai Pahlawan Nasional pada 1961 melalui Surat Keputusan Presiden No. 657.
Siti Walidah (Pendiri ‘Aisyiyah)
Siti Walidah berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa. Dia sadar, bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai peran dan peluang yang sama dalam mencerdaskan bangsa.
Dasar itulah yang kemudian menggerakkannya pada 19 Mei 1917 mendirikan ‘Aisyiyah, sebauh oraganisasi yang menghimpun kaum ibu. Pemerintah mengantarkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 1971 sesuai Surat Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971.
Fatmawati (Penjahit Bendera Pusaka)
Fatmawati merupakan aktivis ‘Aisyiyah di kampungnya, Bengkulu yang mengikuti Jejak sang ayah, Hasan Din. Fatmawti adalah sosok penjahit bendera pusaka yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
“Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya Jahit,” kenangnya.
Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 04 November 2000.
SOEKARNO (Sang Proklamator)
Terlahir di Surabaya 06 Juni 1901 dengan nama kecil Koesno Sosrodihardjo. Dia memerankan peran sentral dalam Kemerdekaan Republik Indonesia, bersama Moh. Hatta.
“Bungkuslah mayat saya dengen bendera Muhammadiyah,” adalah wasiat Soekarno yang fenomenal. Ia resmi menjadi kader Muhammadiyah pada tahun 1930, dengan menjadi pengurus Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah di Bengkulu.
SOEDIRMAN (Tentara Tangguh)
Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah penggerak revolusi paling menonjol dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama dalam pertempuran Ambarawa dan Magelang (Desember, 1945). Pak Dirman sukses memimpin gerilya sehingga disebut sebagai Bapak Tentara Nasional Indonesia dengan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima.
Selain aktif di Hizbul Wathan (HW) dan Pemuda Muhammadiyah, Pak Dirman muda pernah tergabung di Lucht Bescherming Dinest (LDB), Lembaga Dinas Perlindungan Udara yang dibentuk oleh Belanda.
DJOEANDA KARTAWIDJAYA (Deklarasi Pemersatu)
Djoeanda Kartawidjaya, selain menjabat Perdana Menteri Kesepuluh, dia menjadi Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan, Menteri Pekerjaan Umum, dan Menteri Perhubungan di zaman Soekarno.
Kiprah monumentalnya saat mengeluarkan Deklarasi Djoeanda 1957, yang menyatakan bahwa laut Indonesia, yaitu laut sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia, menjadi satu kesatuan NKRI.
Aktif di paguyuban pasundan dan Muhammadiyah. Ayahnya adalah pengurus Muhammadiyah Tasikmalaya. Djoeanda lebih memilih menjadi guru SMA Muhammadiyah Jakarta.
FACHRODIN (Pembelajar Sejati)
Pemimpin Redaksi pertama Suara Muhammadiyah yang terbit 1915. Perintis Badan Penolong Haji Indonesia. Pada usia 26, Fachrodin dipercaya menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah. Atas jasanya, dia dianugerahi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 162 Tahun 1964.
HAMKA (Wartawan dan Pengajar)
Pemilik nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini adalah seorang ulama, politisi, wartawan, penulis, dan sastrawan. Hamka tercatat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama dan aktif di Muhammadiyah sampai akhir hayat. Dia turut serta dalam perang gerilya melawan Belanda di Medan pada 1945, sebagai Ketua Barisan Pertahanan Indonesia.
GATOT MANGKOEPRADJA (Indonesia Menggugat)
Pendiri pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) yang menjadi cikal bakal BKR, TKR, hingga TNI. Gatot pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PP Muhammadiyah.
KH MAS MANSOER (Peniup Pembaharuan)
Anggota BPUPKI, dan merupakan tokoh Empat Serangkai bersama Soekarno, Moh. Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara. Tahun 1921, dia masuk Muhammadiyah yang meniupkan angin segar pembaharuan. Mas Mansoer didapuk menjadi Ketua PP Muhammadiyah periode 1937-1943.
KI BAGOES HADIKOESOEMO (Penyuka Seni dan Olahraga)
Anggota BPUPKI dan PPKI. Pendiri Kauman Voetbal Club yang kemudian menjadi Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan. Dia pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh, Majelis Tarjih, Komisi MPM Hoofbestuur Muhammadiyah, dan Ketua PP Muhammadiyah.
KASMAN SINGODIMEDJO (Sosok Pendamai)
Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP, embrio awal DPR), anggota BPUPKI dan PPKI. Dia juga menjabat Jaksa Agung Indonesia (1945-1946) dan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifudin II. Kasman berperan penting dalam mendamaikan dua kubu terkait sila “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Presiden Jokowi memberi anugerah Pahlawan Nasional pada 08 November 2018.
Sumber: Tim IT dan Kreatif PCPM Depok, Sleman Yogyakarta